Terjebak Klasifik(l)asi(k): Si Bodoh dan Si Pintar

Kesalahan berpikir yang sering kita lakukan dalam pembentukkan self-esteem.

Seperti yang kita semua sepakati, manusia lahir ke dunia dengan segala kecanggihan bawaannya. Seluruh organ, otot, syaraf, pembuluh darah, bekerja secara sistemis sesuai dengan peran dan fungsinya masing-masing.  Namun diantara semua bagian tersebut, otak kitalah yang memegang peranan untuk mengatur jalannya seluruh sistem dapat berjalan sebagaimana mestinya. Selain itu, otak memiliki simpanan memori yang berisi milyaran informasi, membuat jalinan relasi dari informasi-informasi yang terserap acak, menciptakan persepsi, sensasi, gerak, emosi, dan lain sebagainya. Bagaimana mungkin seseorang tidak mengoptimalkan ‘perangkat’ yang maha canggih ini?

 Cara Berpikir Convergent

Percayakah anda jika orang yang terjebak dalam klasifikasi bodoh dan pintar biasanya adalah mereka yang cenderung tidak mengoptimalkan kerja otaknya? Mengapa demikian? Klasifikasi ‘bodoh’ dan ‘pintar’ adalah konsep yang muncul dari cara berpikir convergent. Cara berpikir convergent adalah cara berpikir sesuai standar tertentu, dengan mengeliminasi munculnya kemungkinan-kemungkinan lain dalam mendefinisikan sesuatu. Cara berpikir ini menyempitkan kemungkinan-kemungkinan yang muncul, dengan sebuah kesenjangan yang ekstrim. Dalam bodoh dan pintar misalnya, standar yang dipakai dalam mengukur perbedaan bodoh dan pintar adalah pencapaian akademis, atau prestasi non akademik. Padahal, cara berpikir seperti ini membuat kita mengeliminasi kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja benar, bahkan mengkukuhkan kemungkinan-kemungkinan yang belum tentu benar. Orang-orang yang berpikir secara convergent, cenderung terjebak dalam klasifikasi dan menganggap jika dirinya tidak mampu, bodoh, terbatas, karena ada bandingan si pintar. Bandingannya mencakup nilai ujian, ranking, maupun IPK. Padahal bisa jadi ada kemungkinan lain yang mungkin terjadi namun sudah terlanjur dieliminasi. Misal, ternyata si pintar tidak sepintar yang dipikir oleh si bodoh, atau selama ini si bodoh secara tidak sadar membatasi dirinya karena merasa tidak bisa.  Jadi, apakah ‘ketidakbisaan’ itu adalah akibat dari membatasi diri?

Struktur Kognitif

Dalam ilmu psikologi, dikatakan bahwa semua manusia memiliki struktur kognitif yang mulai terbentuk sejak dini. Struktur kognitif merupakan mental framework yang dibangun seseorang dengan mengambil informasi dari lingkungan dan menginterpretasikannya, mereorganisasikannya serta mentransformasikannya. Struktur ini terbentuk di dalam pikiran seseorang berdasarkan pengalaman-pengalaman selama hidupnya. Menurut Piaget, berpikir menggunakan struktur kognitif merupakan proses internal yang mencakup ingatan, penyimpanan, pengolahan informasi, emosi dan faktor-faktor lain. Proses ini mencakup pengaturan stimulus yang diterima dan menyesuaikannya dengan struktur kognitif yang sudah kita miliki. Stuktur kognitif dapat berkembang sesuai dengan banyaknya pengalaman dan umur seseorang. Struktur kognitif ini mencakup kemampuan konstruktivis, yaitu mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisinya apabila aturan-aturan itu fallable atau tidak lagi relevan. Mengembangkan struktur kognitif berguna untuk membantu mengembangkan ide dan berpikir secara kompleks.

Jangan Batasi Diri

Informasi-informasi yang kita dapatkan dalam kehidupan sehari-hari, dari lingkungan, yang terserap tanpa henti bersumber tak berbatas, ditambah lagi semakin mudahnya akses untuk mendapatkan informasi, adalah investasi bagi mental framework setiap individu. Dengan kemampuan kognitif yang baik, seharusnya manusia tidak memiliki batas dalam mempelajari sesuatu. Lalu apakah masih bijak, jika kita berkata “Aku tidak mungkin bisa mempelajari astronomi” atau “Aku sudah terlalu tua untuk mulai belajar piano.” atau “Jadi dosen itu mustahil untuk orang sepertiku.”? Ujian-ujian yang kita lakukan untuk melwati jenjang demi jenjang akademis hanyalah ukuran pemahaman akan pengetahuan yang bersifat temporal. Pendidikan sebenarnya berfungsi untuk membangun mental, paradigma, cara berpikir maupun menyelesaikan masalah. Karena intelegensi adalah bentukkan pribadi masing-masing, tidak bisa dibangun oleh orang lain kecuali diri sendiri. Dan intelegensi tidak memiliki ukuran maupun batasan. Semua orang seharusnya bisa melakukan apa saja dan menjadi apa saja, tanpa harus membatasi diri, maupun merasa terbatas. Jadi, masihkah ingin terjebak dalam ‘klasifik(l)asi(k)’?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *